Tentang Saya Hari Ini, 13 Januari 2011

Saya hari ini bertekad untuk tidak lagi mengeluarkan air mata. Bukan karena sayang, tapi karena saya mulai sekarang belajar untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keperluan. Bagi saya air mata tak perlu dikeluarkan saat menghadapi masalah, karena air mata bukan penyelesaian suatu masalah.

Menangis tidak menyelesaikan masalah

Saya juga bertekad untuk bisa membendung emosi saya yang meledak-ledak agar bisa saya salurkan ke hal-hal yang positif ketimbang negative. Emosi juga tidak akan menghasilkan sikap dan pemikiran yang bagus kok. Malah cenderung sikap kita jadi “tidak eksklusif” lagi…dan malah kelihatan kampungan. Kalau sudah begitu, mana mungkin orang bisa menghargai kita lagi ?. Apalagi kalau pemikiran kita ikut-ikutan dipengaruhi emosi, biasanya menghasilkan keputusan yang akan disesali kemudian hari bahkan mungkin disesali seumur hidup. Masalahnya, mengendalikan emosi tidak semudah mengendalikan air mata. Heemmmm…..harus bisa donk 😉

Sebenarnya pemikiran saya tentang hidup tidak rumit, tapi juga tidak simple. Hidup ini indah, sangat indah malahan. Karena saya bukan type orang yang gampang terpuruk pada keadaan. Bagi saya, masalah akan terus ada selama saya hidup. Ngapain juga musti bersikap lebay pada keadaan ?. Hidup makin lama maka makin sering menemukan banyak sekali masalah. Dari masalah kita belajar banyak, dari rasa sakit hingga rasa senang. Dari yang bego sampai akhirnya pinter, semua karena ditempa oleh masalah. Jadi kalau memang benar orang pinter, jangan panik kalau menemukan masalah. Tapi begitu ada masalah, kita langsung siapkan strategy untuk mengatasinya. Eitss, karena hidup bukan saja perang yang mengandalkan otak untuk menyusun strategi, melainkan juga kita perlu mengandalkan hati untuk menyiapkan mental dengan apapun hasil akhir dari usaha kita mengatasi masalah tersebut.

Nah permasalahan timbul ketika kita dihadapkan pada kenyataan yang kadang tidak sesuai dengan harapan. Teorinya sih bahwa hasil akhir ditentukan oleh Tuhan dan itu yang terbaik buat kita. Tapi untuk menjalaninya itu gak mudah lho… Tapi selama kita tidak menghujat Tuhan atas hasil akhir tersebut, sebagai manusia wajar sih kalau kita akan menangis, meratap, atau terpuruk. Tapi karena hidup sangat menjanjikan kebahagiaan dibalik kesulitan, jangan sampai terpuruk dan tak bangkit lagi.

Anak = Rejeki

Duuuhh, bahagianya sepupu saya Jehan yang sedang menunggu kehadiran orang ketiga yang akan hadir diantara hidup dia dan suami tercintanya. Yuup…..dia lagi menunggu kehadiran baby pertama mereka. Hehehe.ingat banget deh ketika sebelum menikah dia pernah “curhat” kesaya untuk tidak ingin dulu punya momongan sampai 1 tahun setelah pernikahannya nanti. Tapi diapun gak pengen pakai kontrasepsi. Ya mana bisa neng, hehehe lha wong sekarang ada yang ngehamilin kok gak bisa hamil. Wkwkwwkk….Finally, pas tau positif hamil seneng juga kaaan ?? Alhamdulillah…bentar lagi jadi ibu, meskipun sekarang sering mual dan gak doyan makan dinikmati saja…

Jadi inget deh dulu aku juga gitu. Boro-boro makan, bau nasi aja udah langsung uk..ook…rasanya lemessss banget badan. Hadeww… Pengennya juga aneh-aneh pula. Habisnya susah makan, jadi yang dipikiran tuh makanan-makanan yang menurut aku “wah, kalo makan ini pasti enak dan gak bikin mual”. Walaupun ternyata sama aja tetep bikin mual..hahahaha….Tapi untungnya suami sabar dan pengertian (pasti mikirin anaknya yang diperutku tuuh), jadi apapun yang aku mau meski kadang mustahil dia sabar ngadepinnya.

Nah sekarang, gantian deh Yunan yang ngalamin susahnya ngadepin kemauan istri hamil. Udah sensi, rewel, manja, nyebelin…hahaha…pokoknya kata orang-orang mah bawaan bayi. Hihihi…Sabar ya Yuuun…

Buat yang mau merit, mendingan punya anak dan gak perlu ditunda deh. Ya…yang namanya orang siap menikah tentu saja harus siap untuk mendapatan momongan. Kalau tundanya pakai cara alami misalnya KB kalender (hitung masa subur dan tidak) sih gak papa. Tapi kalau pakai obat apalagi suntik, sebaiknya dihindari. Tidak 1-2 orang teman yang melakukan hal yang sama, tapi banyak banget teman-temanku yang sampai  sekarang menyesalinya karena ketika muncul perasaan rindu ingin memiliki buah hati tapi justru butuh bertahun-tahun baru mendapatkan bahkan ada pula yang belum juga diberi. Padahal punya anak ketika usia kita masih produktif (baca : muda) jadi kita planning sebuah keluarga tuh bener-bener dengan keadaan yang lengkap dengan ada anak diantara kita dan pasangan kita. Tiak perlu khawatir tentang finansial, percaya saja bahwa rejeki itu ada yang atur.

So, ingat2 deh dari sekarang. Siap menikah berarti siap untuk mendapatkanbuah hati

Oke !!  😀