Alasan Dokter Negara Maju “Pelit” Memberikan Obat ke Anak

163343_anakdemam
BELUM sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dr. Knol.

“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection,” kata dokter tua itu.

“Ha? Just wait and see?” batinku meradang.

Ya, aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain.

“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.

“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”

Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter di sini pelit obat. Karena itu, aku membawa obat dari Indonesia.

Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya bertambah. Aku kembali ke dokter. Dia tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.

Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,

“Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau!

Setibanya di rumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.

“Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya. Mau 37, 38 apa 39 derajat, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!”

Sewaktu praktik menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi secuil-secuil ilmu kudapat. Seperti orang travelling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, dua hari ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas berdiam di Berlin dan Swiss, waktu habis. Tibalah saat pulang ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama. Banyak negara dan kota di Eropa belum disambangi. Itulah kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah yang kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng, kami mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, Lala, putri pertamaku sakit. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia. Batuknya tak hilang dan ingusnya masih meler. Lima hari kemudian, Lala kubawa ke huisart.

“Just drink a lot,” katanya ringan.

“Apa nggak perlu dikasih antibiotik, Dok?” tanyaku tak puas.

“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.

Lalu ngapain dong aku ke dokter,tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq!

“Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak.”

Ternyata isi obat Thyme itu hanya ekstrak daun thyme dan madu.

Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia.

Putriku sembuh. Sebulan kemudian sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit.

“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya?”

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a viral infection.”

“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,”

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know how many times normally children get sick every year?”

“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.

Aku pulang dengan perasaan malu. Barangkali si dokter benar, aku selama ini kurang belajar.

Setelah aku beradaptasi dengan kehidupan di Belanda, aku berinteraksi dengan internet. Aku menemukan artikel Prof. Iwan Darmansjah, ahli obat-obatan Fakultas Kedokteran UI.

“Batuk – pilek beserta demam yang terjadi 6 – 12 bulan masih wajar. Observasi menunjukkan kunjungan ke dokter terjadi 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.”

“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan penanganannya, Pertama, obat diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Duuh…kemana saja aku selama ini. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho!.

Di Belanda ‘dipaksa’ tak pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak, kondisi anakku jauh lebih baik. Mereka jarang sakit.

Aku tercenung mengingat ‘pengobatan rasional’. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yg kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan aku panik dan membawa ke dokter, sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional!

Sistem kesehatan Belanda menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Aku baru mengetahui ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga banyak negara termasuk Amerika Serikat, dipakai secara luas untuk anak-anak. Tetapi resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen tersedia di apotek dan boleh digunakan usia anak diatas 6 bulan, di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama anak demam.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan. Karena kekurangan dan ketidakmampuan penyakit anak sehari-hari, orang desa relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, cukup berduit, melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Aku sadar. Telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ konsultasi, memastikan diagnosa penyakit dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Di Indonesia, ke dokter = dapat obat?

Sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan. []

Dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrum, http://ibuhamil.com/ (04)
Dicopy dari http://www.islampos.com/

Pembalutku 15 Tahun Terakhir

Saya mendapatkan menstruasi pertama saya saat berumur 15 tahun. Kelas 3 SMP…heee….beda banget sama anak-anak sekarang yang sudah mendapatkan mensruasi pertamanya bahkan saat kelas 3 SD (umur 10 tahun) !!. Maklum jaman dulu fikiran anak-anak masih bener-bener “anak” gak seperti zaman sekarang yang sudah canggih. Disamping anak-anak sekarang lebih “baik” gizi makanannya dibanding zaman dulu yang jajanannya masih kerupuk sambal dan sebagainya.

Awal saya mendapatkan menstruasi saya masih ingat menggunakan pembalut merk Lau**** karena saat itu merk tersebut yang terbaik dibandingkan merk lain yang modelnya masih sangat tebal dan gak comfort saat dipake. Belum lagi karena inovasinya dengan mengeluarkan produk yang ber”sayap” sehingga untuk pemula seperti saya yang takur bocor maka saya saat itu sangat menyukai produk tersebut.

15 Tahun berlalu, beberapa macam merk pembalut sudah saya pakai. Bahkan saya sekarang sangat ketergantungan dengan produk panty yang dipakai untuk sehari-hari karena menurut saya sangat nyaman dan terasa kering. Tapi….akhir-akhir ini banyak berita yang saya dapatkan baik dari media televisi maupun internet (red: jarang dan malas baca majalah) bahwa beberapa produk pembalut ternyata memakai bahan-bahan daur ulang diantaranya kapas dan tissue bekas yang diputihkan (baca : proses bleaching) dengan menggunakan bahan kimia berbahaya. Hal ini disebabkan karena pembalut adalah produk sekali pakai dan dibutuhkan oleh semua kaum hawa hampir disepanjang hidupnya. Dengan begitu banyak sekali produsen yang sangat ingin meraup keuntungan banyak meski dengan harga luar biasa murahnya. Coba bandingkan harga pembalut dengan tissue atau kapas kecantikan kita ?

Akhirnya produsen nakal mulai menyiasatinya dengan menggunakan bahan-bahan dari daur ulang yang diproses menggunakan bahan pemutih (bleaching). Dari proses bleaching tersebut muncul zat dioxin yang sering disebut sebagai pemicu munculnya penyakit pada wanita diantaranya kanker serviks (Cervical Cancer), kista, keputihan bahkan sampai mengakibatkan pengangkatan rahim.

Bagaimana zat dioxin itu bisa menjadi penyakit pada organ-organ penting wanita ? Yup…pertanyaan itu juga muncul dibenak saya. Ternyata dioxin itu adalah salah satu dari ratusan senyawa kimia beracun yang larut dalam lemak dan sangat stabil di lingkungan, sehingga bakteri di alam pun tidak dapat menguraikannya. Ketika darah haid kita jatuh ke permukaan pembalut, maka zat dioxin akan dilepaskan melalui proses penguapan. Pertama akan mengenai permukaan vagina,kemudian diserap kedalam rahim melalui saluran serviks, lalu masuk ke uterus, melalui tuba fallopi dan berakhir di ovarium.

Sekarang yang saya mau tanyakan. Sudah yakinkah bahwa pembalut yang kita pakai tidak berbahan dasar “sampah” yang disaur ulang ? Berapa rupiah kita keluarkan uang untuk 1 bungkus pembalut  dengan isi 10 lembar didalamnya ? Rp. 5.000,- atau Rp. 10.000,- ?? Hitung lagi berapa jatuhnya harga per pcs ? Dengan harga segitu, yakinkah bahan-bahan yang dipakai benar-benar “bersih” , alami atau sehat ?

Jika tidak yakin, kenapa tidak mencari produk alternatif lain yang kita yakini sehat ? Berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk menjaga kesehatan organ terpenting kita ? Memang akan ada selisih harga, tapi ingat berapa banyak penyakit “berbahaya” mengintai kita?

Yuuk….

Sebagai wanita kita mesti pintar memilih dan bersikap bijak dalam menghadapi keadaan ini. Kita hidup di zaman modern yang banyak orang menghalalkan segala cara. Tapi jika kita mampu memilih 1 hal dalam hidup kita yang terbaik dan dijamin (bergaransi) kita patut dapatkan meski dengan harga berbeda pula.

AVAIL

Jawabannya ada di pembalut/ panty Feminine Comfiort bio Sanitary Pads dari AVAIL. Produk ini 100% berasal dari kapas asli (bukan daur ulang) dan mengandung bahan herba berkhasiat untuk menghilangkan keputihan bahkan yang sudah akut sekalipun.

 

Be stronger lady’s….

 

Love U All

 

Goreng Jeroan Sapi (usus/ babat)

Saya bukan tipe ibu2 yang suka dan bisa masak. Tapi karena saya tau kelemahan saya disitu…sejak saya menikah saya sering sekali memasak meski lebih banyak gak enaknya dibanding enaknya 😀

Tapi karena saya merasakan kepuasan tersendiri jika seluruh orang bisa menikmati masakan yang saya buat, saya jadi ketagihan masak.

Yang baru2 ini saya masak adalah : Sayur bening bayam+gambas dan goreng usus sapi.

Sayur Bening Bayam+Gambas (sunda : oyong)

Bahan : – Bayam 1 ikat, 3 bh gambas

– 3 siung bawang merah (ukuran besar) diiris tipis

– Temu kunci 1 ruas jari kelingking

– Garam + penyedap secukupnya

Cara membuat :

– Petik daun bayam + cuci bersih

– Kupas gambas lalu potong2 setebal 2 cm + cuci bersih

– 5 gelas air direbus, masukkan irisan bawang dan bayam sebelum mendidih. Setelah mendidih baru masukkan gambas

– Tambahkan garam dan penyedap secukupnya.

– Siap dihidangkan

 

Goreng Usus sapi :

Bahan : – Usus sapi 1/2 kilogram, potong2 kecil (+/- 2 cm)

– kunyit sebesar jari telunjuk

– 3 sendok makan ketumbar

– 3 sendok garam + penyedap

Caranya :

– rebus usus sapi sampai lunak (kira2 membutuhkan waktu 1 jam. Jadi air harus banyak)

– Haluskan semua bumbu, beri sedikit saja air

– masukkan usus yg sudah direbus dan ditiriskan kedalam bumbu. Biarkan selama 15 menit agar bumbu meresap

– goreng usus dalam minyak goreng yang banyak sampai kering

– hidangkan untuk lauk bersama sayur bening bayam+gambas

 

Catatan : Jika suka sambal, buat sambal goang. 7  bh cabe rawit+1 siung bawang putih+garam+jeruk sambal 1/2 butir.

 

 

Selamat mencoba ya para ibu muda…

 

 

Resep Karedok Kacang Panjang

Bahan-bahan :

  • 500 gram kacang panjang dipotong kecil2 (-/+ 1/2 cm)
  • 200 gram taoge sayur (yang panjang2, cuci bersih)
  • 9 bh cabe rawit
  • 1 siung bawang putih ukuran sedang
  • 1 ruas jari terasi matang (goreng/ bakar)
  • 1 ruas jari kencur
  • Garam + gula merah secukupnya

Cara membuat :

  • Haluskan semua bumbu seperti membuat sambal.
  • Setelah halus, masukkan irisan kacang panjang dan taoge kedalam sambal tadi dan diaduk rata dengan sedikit ditumbuk pelan (jangan sampai halus, hanya agar sayuran dan sambal tercampur jadi satu)

Catatan :

  • Sajikan dengan nasi hangat, goreng ikan asin dan kerupuk.Catatan :
  • Kacang panjang dan taoge bisa dipakai salah satunya saja (kacang panjang saja or taoge saja), atau lebih enak lagi diganti “leunca”/ terong pokak.
  • menu ini sehat, karena sayuran+sambal semua mentah. Inilah kelebihan orang Sunda, suka lalapan jadi kulitnya juga bagus2. Selamat mencoba.